PEMANFAATAN KEARIFAN LOKAL BERBASIS MAULID NABI MUHAMMAD SAW SEBAGAI UPAYA PENUNJANG DANA PENDIDIKAN ANAK YATIM MELALUI LPKM DI ACEH

Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki keberagaman budaya dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan pembangunan masyarakat yang berasaskan pada kearifan lokal. Aceh merupakan salah satu daerah istimewa dari Indonesia paling barat pulau sumatera yang memiliki keberagaman budaya dan suku bangsa.

Namun pemerintah tidak mempertimbangkan keunikan dan keberagaman budaya serta suku bangsa yang dimiliki oleh Indonesia dalam pemanfaatan model pembangunan masyarakat yang berasaskan pada kearifan lokal. Hal ini dibuktikan dengan kegagalan pembangunan masyarakat yang terjadi selama kurang lebih sembilan belas tahun terakhir dari tiga puluh dua tahun pemerintah Orde Baru (ORBA) memerintah Indonesia, Pemerintahan Orde Baru telah menerapkan strategi pembangunan berasas politik pembangunan yang sangat neoliberal (Ortodox capitalism). Ciri utama dari pembangunan ini adalah terjadinya sentralisasi kebijakan pembangunan masyarakat dan ekonomi negara serta target stabilitas politik yang bersifat repressif oleh pemerintah pusat, tanpa mempertimbangkan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang ada di Indonesia.

Strategi pembangunan yang diambil dan diterapkan oleh pemerintah Orde Baru sebenarnya bertujuan untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan harapan selanjutnya akan terciptanya peluang kerja yang sangat luas dan merata akibat adanya mekanisme trickling-down effect. Bagi pemerintah Orde Baru, ternyata model pembangunan seperti ini dijadikan sebagai prioritas kebijaksanaan pembangunan di Indonesia pada masa Orde Baru.

Keberhasilan model pembangunan yang menjadi prioritas pemerintahan Orde Baru ini hanya bersifat semu, dimana angka-angka pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang cukup menakjubkan serta penurunan jumlah angka masyarakat miskin begitu drastis. Keberhasilan ini hanya diciptakan dan nikmati oleh sebagian kelompok kecil masyarakat saja, karena kegiatan pembangunan masyarakat dan ekonomi yang menjadi prioritas kebijakan pembangunan pemerintah Orde Baru ini tidak sesuai dengan sumber daya masyarakat Indonesian (SDA, SDM dan Kelembagaannya).

Akibatnya, Indonesia mengalami krisis moneter yang meluas diberbagai struktur perekonomian pemerintah dan masyarakat pada tahun 1998. Ketahanan kebijakan pemerintah Orde Baru yang bersifat sentralisasi itu ternyata tidak dapat menahan terpaan angin krisis moneter. Hal ini disebabkan karena kebijakan pemerintahan Orde Baru yang berorientasi pada kebijakan pembangunan masyarakat yang bersifat sentaralisasi dan mengabaikan keunikan-keunikan yang dimiliki oleh masing-masing daerah yang ada di Indonesia (Desentralisasi).

Padahal kesejahteraan masyarakat hanya dapat dicapai dan ditingkatkan serta diselenggarakan secara berkesinambungan oleh masyarakat itu sendiri dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya, termasuk kelembagaan yang dimilikinya. Aceh memiliki banyak potensi dan sumber daya dari berbagai hal, baik itu sumber daya alam yang melimpah maupun kelembagaan (kearifan lokal) yang dimilikinya.

Salah satu kearifan lokal yang mempunyai potensi untuk dimanfaatan sebagai upaya penunjang dana pendidikan anak yatim melalui LPKM adalah Maulid Nabi. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW, yang di Indonesia perayaannya jatuh pada setiap tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

Penduduk Aceh pada umumnya beragama Islam, maka perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Aceh jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

 

Pada masyarakat Aceh memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan tradisi yang sangat besar dan berlangsung cukup lama, yaitu selama tiga bulan. Kanduri Maulod atau Kenduri Maulid pada masyarakat Aceh erat kaitannya dengan peringatan hari kelahiran Pang Ulee (penghulu alam) Nabi Muhammad SAW, utusan Allah SWT yang terakhir dan pembawa serta penyebar ajaran agama Islam. Karena itu kenduri ini sering juga disebut Kanduri Pang Ulee.

Kenduri Maulid yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal disebut Maulod Awai (Maulid Awal) yang dimulai dari tanggal 12 Rabiul Awal sampai berakhir bulan Rabiul Awal. Sedangkan Kenduri Maulid yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Akhir disebut Maulod Teungoh (Maulid Tengah) yang dimulai dari awal bulan Rabiul Akhir sampai berakhirnya bulan Rabiul Akhir tersebut. Selanjutnya, Kenduri Maulid pada bulan Jumadil Awal disebut Maulod Akhee (Maulid Akhir) yang dilaksanakan sepanjang bulan Jumadil Awal.

Fungsi dari pembagian dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kedalam tiga bulan adalah agar semua kalangan masyarakat Aceh dapat memperingatinya, baik itu masyarakat kelas bawah, menengah maupun kelas atas. Karena dengan rentang waktu yang lama dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW memberikan peluang untuk masyarakat mengumpulkan uang (dana).

Keunikan yang dimiliki oleh masyarakat Aceh dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah perayaannya yang besar-besaran daripada masyarakat daerah lain yang ada di Indonesia, mengapa dikatakan perayaan Maulid Nabi yang besar ? karena tidak ada desa (Gampong) yang tidak merayakannya, meskipun dengan skala kecil. Kemudian perayaan Maulid Nabi di Aceh dilaksanakan ditingkat kabupaten, kecamatan dan provinsi yang dilakukan secara besar-besaran. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah menjadi tradisi masyarakat Aceh secara besar dalam hal perayaannya, maka penyembelihan hewan seperti sapi, kerbau dan unggas dengan skala yang lebih banyak dilakukan.

Penyembelihan sapi, kerbau dan unggas sampai puluhan ekor tergantung pada tingkatan perayaannya. Terkadang pada tingkat kampung saja ada dua sampai tiga ekor sapi atau kerbau yang disembelih. Hal ini karena masyarakat Aceh masih menganut filosofi: dalam bahasa Aceh “Hana rubah aneuek binantang nyan kon maulod”. (tidak ada penyembelihan anak binatang bukan disebut perayaan maulid).

Hal ini dibuktikan dengan terjadinya inflasi sembako besar-besaran pada bulan-bulan tertentu di Aceh, seperti pada bulan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Hampir semua harga sembako dipasaran melunjak. Mulai dari harga daging ayam yang semulanya per kilo gram Rp. 30.000,00 menjadi Rp. 40.000,00 per kilo gram, harga daging sapi yang semula per kilo gram Rp. 90.000,00 menjadi Rp. 120.000,00 per kilo gram, disusul dengan harga cabai, bawang, ikan tongkol dan semuanya yang bersifat domestik sembako mengalami inflasi.

Sumber data : Bank Indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar grafik Perkembangan Inflasi Aceh 2014 yang dihimpun dari data Bank Indonesia (BI), memberikan penjelasan bahwa pada bulan Januari yang sangat jelas bertepatan dengan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW terjadinya inflasi besar-besaran yang baik dalam pertumbuhan ekonomi. Karena inflasi bersifat komsumsi terhadap barang-barang sembako pemenuh kebutuhan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Penulis mencoba menghimpun data primer dengan teknik pengumpulan data wawancara langsung secara random, kepada kepala keluarga yang terlibat dalam penghidangan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Besar dan Aceh Jaya. Hasil dari wawancara langsung kepada responden menunjukan bahwa rata-rata setiap kepala keluarga yang merayakan Maulid Nabi dengan memberikan hidangan ke Mesjid atau memberikan makan anak yatim/piatu mengeluarkan anggaran sekitar Rp. 1.000.000,00 sampai dengan Rp. 2.000.000,00.

Anak yatim/piatu adalah anak yang ditinggalkan oleh ayah/ibu kandungnya karena ayah/ibu kandungnya meninggal dunia. Memberikan makan anak yatim pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW adalah sebuah kewajiban yang diajarkan dan dianjurkan oleh pemeluk agama Islam, Memberikan makan dan mengurus anak yatim merupakan kewajiban bagi masyarakat yang mempunyai lebih harta.

Padahal kearifan lokal yang berbasis perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW secara besar-besaran di kalangan masyarakat Aceh dapat di optimalisasikan dengan cara yang efektif dan efisien. Optimalisasi kearifan lokal ini dapat dibuat berbasis LPKM (Lembaga Pengelola Keuangan Mesjid) penunjang dana pendidikan anak yatim. Jadi, optimalisasi kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Aceh dapat dijadikan sebagai LPKM berbasis beasiswa untuk anak yatim.

Berikut gagasan yang ditawarkan oleh penulis dalam hal mewujudkan Pemanfaatan Kearifan Lokal Berbasis Maulid Nabi SAW Sebagai Upaya Penunjang Dana Pendidikan Anak Yatim Melalui LPKM di Aceh :

 

Kondisi Kekinian

Sumber data : Berdasarkan Observasi Penulis di Lapangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada umumnya masyarakat Aceh dalam melaksanakan Maulid Nabi secara besar-besaran, ditandai dengan pengeluaran dana per kepala keluarga yang lumayan besar, dikarenakan untuk menghidang atau memberikan makan kepada anak yatim dalam jangka waktu hanya satu hari saja. Hidangan diisi dengan berkilo-kilo gram daging dan ikan yang sudah siap untuk disajikan, lalu dikemas sedemikian rupa sesuai dengan budaya masyarakat Aceh.

Setelah selesai melakukan pengemasan, hidangan diantarkan ke Mesjid yang melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Melalui Mesjid hidangan akan disalurkan kepada warga Gampong (desa)  dan anak yatim yang berada di Mesjid setelah selesai upacara keagamaan pelaksanaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hal yang sangat miris ditemukan oleh penulis dilapangan adalah makanan hidangan di Mesjid yang sangat banyak tidak habis dimakan oleh masyarakat yang ada di Mesjid dan anak yatim yang di undang oleh pengurus Mesjid, akhirnya makanan yang berasal dari hidangan warga Gampong  (desa) mubazir tidak termakan oleh siapapun, karena hampir semua lapisan masyarakat Gampong (desa) memberikan hidangan untuk Mesjid.

Gagasan Yang Ditawarkan Untuk Pemanfaatan Kearifan Lokal Berbasis Maulid Nabi SAW Sebagai Upaya Penunjang Dana Pendidikan Anak Yatim Melalui LPKM di Aceh

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber data : Konsep Gagasan Penulis

 

 

 

Dalam hal ini, pihak yang dipertimbangkan terlibat untuk mengoptimalisasi pemanfaatan kearifan lokal berbasis Maulid Nabi SAW sebagai upaya penunjang dana pendidikan anak yatim melalui LPKM di Aceh adalah Pemerintah Daerah, Kabupaten dan Gampong (desa), selaku pembuat keputusan/kebijakan. Dengan mengatur tata cara pelaksanaan Maulid Nabi yang tidak berlebihan (besar-besaran) agar tidak mubazir tapi masih dalam konteks ajaran agama Islam. Peraturan semacam ini dapat di kukuhkan kedalam peraturan Mesjid setiap Gampong (desa) ketika ingin melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tata cara yang sudah diatur oleh pemerintah dan di kukuhkan untuk peraturan Mesjid dalam hal melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW misalnya, mengatur minimal dan maksimal pengeluaran keuangan yang wajar atau seberapa banyak hidangan yang harus dibuat untuk diberikan ke Mesjid. Dan sisa anggaran keuangan masyarakat yang seharusnya untuk membuat hidangan besar-besaran dapat di infakkan (disedahkan) kepada Lembaga Pengelola Keuangan Mesjid (LPKM), yang nantinya akan disalurkan kepada anak yatim yang membutuhkan dana pendidikan dengan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh LPKM.

Lembaga Pengelola Keuangan Mesjid (LPKM) tidak hanya sebagai lembaga yang berfungsi untuk mengelola keuangan mesjid dalam hal pembangunan Mesjid dan bantuan fakir miskin (janda miskin/masyarakat dengan pendapatan dibawah garis kemiskinan). Namun, LPKM juga berfungsi sebagai lembaga yang mengelola keuangan Mesjid untuk proses jangka panjang (berkelanjutan). Seperti penyedia dana pendidikan untuk anak yatim dari hasil infak (sedekah) dari sebagian penyempitan pengeluaran dana masyarakat untuk melaksanakan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sudah diatur tata caranya.

Prediksi Hasil Pengimplementasian Pemanfaatan Kearifan Lokal Berbasis Maulid Nabi SAW Sebagai Upaya Penunjang Dana Pendidikan Anak Yatim Melalui LPKM di Aceh

Gagasan semacam ini sangat efektif dan efisien apabila diterapkan di daerah Aceh, karena ada beberapa faktor yang mendukung, yaitu :

  1. Tradisi masyarakat Aceh dalam hal melaksanakan Maulid Nabi yang belebihan dan mubazir.
  2. Budaya Islamiah masyarakat Aceh sangat mendukung untuk gagasan ini diterapkan sebagai pembangunan sumber daya manusia berkelanjutan melalui beasiswa dana pendidikan yang dikelola oleh LPKM.
  3. Pelaksanaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW lebih bermanfaat dalam jangka panjang dan bermakna untuk generasi muda pewaris budaya.

Dengan pemanfaatan kearifan lokal berbasis Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai upaya penunjang dana pendidikan anak yatim melalui LPKM di Aceh, akan meningkatkan peran dan fungsi Mesjid serta melaksanakan Maulid Nabi yang lebih efektif dan efisien sebagai pusat pengembangan umat. Melalui gagasan seperti ini perayaan Maulid Nabi tidak hanya dinikmati dalam waktu yang singkat (satu hari), namun dapat dinikmati dalam waktu yang berkelanjutan (jangka panjang) berdasarkan pada pengelolaan penyempitan sebagian dana perayaan Maulid Nabi untuk diinfakkan (sedekahkan) kepada LPKM yang nantinya akan dikelola dan digunakan untuk penunjang dana pendidikan anak yatim.

Mesjid yang semulanya hanya menjadi tempat sholat berjama’ah, pengajian, perayaan upacara keagamaan. Namun juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat peribadatan yang juga memperhatikan jama’ahnya dari segi sosial (pendikan anak yatim).

Untuk mengoptimalisasi pemanfaatan kearifan lokal berbasis Maulid Nabi SAW sebagai upaya penunjang dana pendidikan anak yatim melalui LPKM di Aceh, dapat dimulai dengan menejemen keuangan yang dihasilkan dari infak (sedekah) yang diberikan oleh masyarakat yang melaksanakan perayaan Maulid Nabi. Dilanjutkan dengan pemberian dana beasiswa pendidikan kepada anak yatim yang membutuhkan sesuai dengan kriteria persyaratan peneriman beasiswa yang telah ditetapkan oleh LPKM sebelumnya.

Dengan adanya implementasi nyata dari masyarakat, pemerintah dan LPKM (pengurus Mesjid) itu sendiri, setidaknya menjadikan masyarakat memerankan Mesjid sebagai pusat pengembangan umat. Jika dalam waktu yang singkat pengelolaan dana infak (sedekah) dari sebagian anggaran yang harus dikeluarkan oleh masyarakat untuk pelaksanaan Maulid Nabi besar-besaran dikelola dengan sistematis dan terorganisir, maka setidaknya minimal akan adanya pengurangan jumlah persentase anak putus sekolah di Gampong (desa) yang mengimplementasikan gagasan ini.

Kearifan lokal dari keunikan dan keberagaman budaya semacam ini harusnya menjadi sebuah acuan bagi pemerintah dalam membantu peningkatan dan penanganan masalah pendidikan. Artinya pemerintah tidak lagi mengutamakan pembangunan yang bersifat sentralitas dengan menyingkirkan kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah, sebagai penunjang pelestarian dana pendidikan untuk mengatasi anak putus sekolah. Namun dengan kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia dapat dijadikan model pemanfaatan dalam pembangunan masyarakat Indonesia yang berdaya saing global.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Riki Ramdani

About

Nama saya adalah Riki Ramdani, kelahiran 1994 di salah satu kabupaten di Aceh. yaitu, Kabupaten Nagan Raya. sekarang saya berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi.

View all posts by